JAKARTA - Setiap memasuki bulan Ramadan, pola konsumsi masyarakat Indonesia mengalami perubahan signifikan.
Kebutuhan rumah tangga meningkat, tradisi berbagi semakin menguat, dan aktivitas belanja pun ikut terdorong. Perubahan ini turut tercermin pada lonjakan transaksi di berbagai platform perdagangan digital.
Momen Ramadan mendorong lonjakan transaksi di platform e-commerce. Jumlah pemesanan dinilai bisa meningkat rata-rata dua kali lipat dibanding hari biasa.
Fenomena ini tidak hanya terlihat dari meningkatnya jumlah pesanan, tetapi juga dari ragam produk yang diburu konsumen. Mulai dari kebutuhan berbuka puasa, perlengkapan ibadah, hingga hampers untuk keluarga dan kolega menjadi bagian dari lonjakan permintaan tersebut.
Budaya Konsumsi dan Silaturahmi Jadi Faktor Utama
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS Surakarta, Bhimo Rizky Samudro, menilai budaya menjadi faktor utama. Ia mencontohkan momen Ramadan dan Idul Fitri di Indonesia yang lekat dengan tradisi konsumsi dan silaturahmi.
"Fenomena takjil, bagi-bagi hampers, hingga kebutuhan menjamu keluarga meningkatkan belanja rumah tangga. Kebutuhan yang variatif ini membuat masyarakat mencari akses pembelian yang lebih mudah, termasuk di toko online," ujarnya.
Menurut Bhimo, karakteristik Ramadan di Indonesia memang identik dengan peningkatan aktivitas konsumsi. Tradisi berbuka bersama, berbagi bingkisan, serta persiapan menyambut Idul Fitri membuat kebutuhan rumah tangga menjadi lebih beragam.
Variasi kebutuhan tersebut mendorong masyarakat untuk mencari cara belanja yang praktis dan efisien. Platform e-commerce pun menjadi pilihan karena menawarkan kemudahan akses serta kelengkapan produk dalam satu genggaman.
Akses Lebih Mudah Jadi Alasan Utama
Lebih lanjut, Ia menilai lonjakan transaksi bukan semata dikarenakan daya beli yang menguat. Faktor kemudahan akses dan efisiensi penggunaan juga menjadi alasan utama masyarakat memilih e-commerce.
"Kalau dari sisi daya beli sebenarnya enggak, ya. Kenapa transaksi online ini meningkat? Karena masyarakat lebih memikirkan aksesnya, mereka berusaha mencari akses untuk kebutuhan Ramadan," katanya.
Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan transaksi tidak selalu identik dengan kenaikan daya beli. Dalam konteks Ramadan, kebutuhan yang meningkat membuat masyarakat memprioritaskan kemudahan dalam memperoleh barang.
Belanja daring memungkinkan konsumen membandingkan harga, memilih produk, dan melakukan pembayaran tanpa harus mengunjungi toko fisik. Efisiensi waktu dan tenaga menjadi pertimbangan penting, terutama di tengah aktivitas ibadah dan persiapan menjelang Lebaran.
Dengan kemudahan tersebut, e-commerce menjadi solusi yang dinilai relevan untuk menjawab kebutuhan musiman yang cenderung meningkat dalam waktu singkat.
Peran Live Shopping dan Promo Menarik
Lebih lanjut, Sekretaris Jenderal idEA, Budi Primawan, menyebut keberadaan 'live shopping' turut mendorong peningkatan transaksi e-commerce. Menurutnya, promo yang ditawarkan semakin menggugah konsumen.
"Karena biasanya pada saat live shopping ini ada promo-promo tambahan. Orang lebih banyak beli lewat situ karena barang yang dicari macam-macam dan harganya menarik," ujar Budi.
Fitur live shopping menghadirkan pengalaman belanja yang interaktif. Konsumen dapat melihat produk secara langsung, berinteraksi dengan penjual, serta memperoleh informasi detail secara real time. Ditambah dengan promo tambahan, potongan harga, atau penawaran terbatas, fitur ini semakin menarik minat pembeli.
Strategi promosi yang agresif selama Ramadan turut memperkuat daya tarik e-commerce. Diskon khusus, cashback, hingga gratis ongkir menjadi kombinasi insentif yang mendorong masyarakat untuk melakukan transaksi lebih banyak dibanding hari biasa.
Dengan ragam produk yang tersedia serta harga yang kompetitif, konsumen memiliki banyak pilihan dalam memenuhi kebutuhan Ramadan secara lebih praktis.
Lonjakan Bersifat Musiman dan Didukung Penjual Baru
Di satu sisi, Budi mengatakan fenomena ini meningkatnya transaksi e-commerce ini sifatnya musiman. Didukung dengan penjual baru yang biasanya bertambah namun hanya saat hari-hari besar seperti Ramadan dan jelang lebaran.
"Hanya menjelang Lebaran mereka buka bisnis. Bulan-bulan biasa mereka tidak berbisnis," ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa lonjakan transaksi selama Ramadan tidak berlangsung sepanjang tahun. Banyak pelaku usaha yang memanfaatkan momentum ini untuk membuka lapak sementara, terutama dalam menjual produk musiman seperti kue kering, hampers, busana Muslim, hingga makanan khas Lebaran.
Penambahan jumlah penjual turut memperkaya variasi produk di platform e-commerce. Hal ini menciptakan ekosistem yang lebih dinamis selama periode Ramadan, sekaligus meningkatkan volume transaksi secara keseluruhan.
Namun, setelah periode Lebaran berakhir, sebagian pelaku usaha tersebut kembali menghentikan aktivitasnya. Pola ini menunjukkan bahwa Ramadan menjadi momentum ekonomi tersendiri yang mendorong peningkatan transaksi secara signifikan, meski bersifat temporer.
Secara keseluruhan, momen Ramadan terbukti menjadi penggerak utama peningkatan transaksi e-commerce. Faktor budaya, kemudahan akses, fitur live shopping, serta kehadiran penjual musiman berkontribusi terhadap lonjakan yang bisa mencapai dua kali lipat dibanding hari biasa.
Fenomena ini mencerminkan bagaimana tradisi dan teknologi berpadu dalam membentuk pola konsumsi masyarakat modern di Indonesia.